Kesulitan Mengenalkan KM? Gunakan Storytelling!

Mengapa banyak sosialisasi KM tidak menghasilkan perubahan perilaku? Sering kali masalahnya bukan pada materi yang disampaikan, tetapi pada cara penyampaiannya. Storytelling adalah salah satu solusinya
Share

Salah satu metode yang terbukti sukses mengenalkan Knowledge Management (KM) ke seluruh organisasi adalah dengan Sosialisasi. Pertanyaannya, pernahkah Anda selesai melakukan sosialisasi, peserta terlihat antusias, tapi ketika dicek beberapa minggu kemudian, tidak ada yang benar-benar berubah?

Karyawan masih ragu berbagi pengetahuan. Lessons Learned tetap dianggap formalitas. Repository pengetahuan masih sepi. Bahkan, ada yang bertanya,

“Sebenarnya manfaat KM buat pekerjaan saya apa?”

Situasi seperti ini mungkin terdengar tidak asing. Dan kalau itu yang terjadi, persoalannya belum tentu di materi sosialisasi yang Anda sampaikan.

Bisa jadi, cara penyampaiannya belum berhasil membuat orang sadar kenapa KM penting bagi pekerjaan saya.

Banyak praktisi KM berusaha meyakinkan audiens dengan definisi, framework, atau statistik. Padahal, sebagian besar orang lebih mudah paham sebuah gagasan ketika mereka melihat bagaimana gagasan itu di situasi sehari-hari.

Inilah alasan teknik storytelling menjadi salah satu cara paling efektif untuk mengenalkan KM.

Mengapa Storytelling Lebih Efektif?

Di tempat kerja, orang jarang mengambil keputusan berdasarkan definisi. Mereka lebih sering bertindak berdasarkan pengalaman yang dianggap relevan.

Contohnya bisa kita bandingkan dari dua penjelasan berikut ini:

“Knowledge sharing bisa mengurangi kesalahan dalam pekerjaan.”

Kalimat itu benar, tetapi mudah dilupakan. Sekarang bandingkan dengan ini.

“Seorang engineer baru hampir mengulang kesalahan yang sama seperti proyek sebelumnya. Untungnya, sebelum pekerjaan dimulai ia menemukan Lessons Learned yang ditulis oleh tim terdahulu. Kesalahan yang berpotensi menghabiskan ratusan juta rupiah, berhasil dihindari.”

Pesan yang disampaikan sebenarnya sama. Bedanya, cerita membantu orang membayangkan situasi tersebut. Ketika mereka bisa melihat konteksnya, mereka lebih mudah memahami kenapa KM dibutuhkan.

Cerita memberi konteks. Ketika konteksnya terasa dekat dengan pekerjaan sehari-hari, sebuah konsep tidak lagi terdengar seperti teori, tapi jadi sesuatu yang masuk akal dan mudah diingat.

Mengapa Banyak Sosialisasi KM Kurang Berhasil?

Dalam berbagai implementasi KM, saya sering melihat pola yang sama.

Presentasi dipenuhi definisi, model, istilah, dan framework. Dont get me wrong. Tidak ada yang salah dengan semua itu. Masalahnya, peserta sering kali belum memiliki alasan untuk peduli.

Mereka belum melihat hubungan antara konsep yang dijelaskan dengan tantangan yang benar-benar mereka hadapi setiap hari.

Seorang Project Manager tidak bangun pagi dan teringat knowledge repository. Seorang Supervisor Operasi juga tidak memulai harinya dengan memikirkan knowledge taxonomy. Yang ada di pikiran mereka adalah bagaimana proyek selesai tepat waktu, bagaimana gangguan tidak terulang, atau bagaimana anggota tim yang baru bisa bekerja lebih cepat.

Di sinilah tantangannya.

Sebelum menjelaskan apa itu KM, kita perlu membantu mereka memahami mengapa KM dibutuhkan.

Ketika seseorang sudah melihat bahwa KM dapat membantu menyelesaikan masalah yang benar-benar ia hadapi, barulah berbagai konsep, metode, atau framework menjadi lebih mudah diterima.

Dan cerita adalah jembatan yang menghubungkan keduanya.

4 Prinsip Storytelling yang Efektif untuk Mengenalkan KM

Storytelling bukan berarti membuat cerita yang dramatis. Tujuannya juga bukan sekadar membuat presentasi menjadi lebih menarik.

Dalam konteks KM, storytelling membantu orang memahami bagaimana sebuah pengalaman dapat menjadi pembelajaran yang berguna bagi pekerjaan mereka.

Berikut 4 prinsip yang dapat Anda gunakan.

1. Mulailah dari pengalaman nyata, bukan teori

Cerita yang paling kuat biasanya berasal dari pengalaman sendiri atau pengalaman organisasi.

Misalnya, jangan langsung menjelaskan bahwa Lessons Learned itu penting. Ceritakan bagaimana sebuah proyek pernah mengalami keterlambatan karena tim tidak tahu kalau masalah yang sama sebenarnya sudah pernah terjadi di proyek sebelumnya.

Lalu lanjutkan ceritanya dengan membandingkan dengan proyek lain. Kali ini, tim meluangkan waktu membaca Lessons Learned sebelum pekerjaan dimulai. Hasilnya, mereka mampu mengantisipasi risiko yang sama dan menyelesaikan pekerjaan dengan lebih lancar.

Tanpa harus menjelaskan definisinya terlebih dahulu, peserta biasanya akan memahami sendiri mengapa Lessons Learned memiliki nilai.

Prinsip yang sama juga berlaku ketika mengenalkan Community of Practice, Knowledge Sharing, maupun Knowledge Retention. Mulailah dari masalah yang benar-benar pernah terjadi, kemudian tunjukkan bagaimana praktik KM membantu menyelesaikannya.

Kalau Anda belum memiliki pengalaman sendiri, gunakan studi kasus dari organisasi lain. Yang terpenting bukan siapa organisasinya, tetapi apakah ceritanya relevan dengan tantangan yang dihadapi audiens.

Tips Praktis

Sebelum memberikan sosialisasi KM, siapkan tiga sampai lima cerita nyata yang pernah Anda alami atau temui selama mendampingi organisasi. Dalam banyak situasi, kumpulan cerita tersebut justru lebih berharga daripada menambah puluhan slide teori.

2. Bangun keterlibatan, karena keputusan tidak hanya dipengaruhi oleh logika

Fakta membantu orang memahami. Cerita membantu mereka peduli.

Ketika bercerita, jangan hanya menjelaskan apa yang terjadi. Gambarkan juga situasi yang sedang dihadapi.

Misalnya,

  • bagaimana tekanan yang dirasakan tim menjelang tenggat proyek
  • bagaimana frustrasinya ketika masalah yang sama muncul untuk ketiga kalinya
  • bagaimana sulitnya mencari seorang ahli yang sedang cuti
  • atau bagaimana lega rasanya ketika solusi akhirnya ditemukan melalui pengalaman proyek sebelumnya.

Anda tidak perlu mendramatisasi cerita. Cukup berikan detail yang membuat audiens bisa membayangkan situasinya.

Ketika mereka merasa, “Kalau saya berada di posisi itu, saya mungkin akan mengalami hal yang sama,” di situlah cerita mulai bekerja.

3. Fokus pada detail yang membantu orang membayangkan situasi

Cerita menjadi hidup karena detail. Namun bukan berarti semua detail perlu diceritakan.

Pilihlah detail yang benar-benar membantu audiens membangun gambaran di kepala mereka. Misalnya, daripada mengatakan,

“Tim mengalami masalah saat proyek berlangsung.”

lebih baik katakan,

“Dua hari sebelum commissioning, tim menemukan bahwa konfigurasi yang digunakan ternyata sama dengan konfigurasi proyek sebelumnya yang pernah gagal.”

Kalimat kedua jauh lebih mudah divisualisasikan. Pembaca bisa merasakan tekanan yang sedang dihadapi tim sekaligus memahami mengapa pengalaman proyek sebelumnya menjadi sangat berharga.

Tetapi ada satu hal yang perlu diingat. Semakin banyak detail bukan berarti semakin baik.

Setiap kali menambahkan informasi ke dalam cerita, coba tanyakan ini,

“Apakah detail ini membantu orang memahami pelajaran yang ingin saya sampaikan?”

Kalau jawabannya tidak, lebih baik dihilangkan.

4. Akhiri dengan insight, bukan sekadar akhir cerita

Kesalahan yang cukup sering terjadi adalah berhenti setelah cerita selesai. Padahal tujuan storytelling dalam KM bukan menceritakan pengalaman. Tujuannya adalah membantu orang belajar dari pengalaman tersebut.

Karena itu, setelah selesai bercerita, ajak audiens melakukan refleksi.

Misalnya dengan pertanyaan seperti:

  • Apa penyebab utama masalah tadi?
  • Pengetahuan apa yang seharusnya dibagikan lebih awal?
  • Praktik KM apa yang bisa mencegah kejadian serupa?
  • Pernahkah situasi seperti ini terjadi di organisasi kita?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membantu peserta menghubungkan cerita dengan pekerjaan mereka sendiri.

Di titik inilah sebuah cerita berubah menjadi proses pembelajaran.

Cerita Membuka Pintu, Data Menguatkan Keyakinan

Apakah ini berarti data, indikator, atau framework tidak lagi penting?

Tentu tidak.

Dalam banyak situasi, terutama ketika menyusun business case kepada manajemen, Anda tetap membutuhkan data, ukuran kinerja, maupun hasil evaluasi implementasi.

Namun data dan cerita sebenarnya memiliki peran yang berbeda.

Cerita membantu orang memahami mengapa sebuah perubahan perlu dilakukan. Data membantu mereka yakin bahwa perubahan tersebut memang layak dilakukan.

Cerita membangun pemahaman. Data memperkuat keyakinan.

Semakin sering mendampingi organisasi mengembangkan KM, semakin saya percaya bahwa keberhasilan sosialisasi KM tidak ditentukan oleh seberapa banyak teori yang kita kuasai.

Yang lebih menentukan adalah apakah kita mampu membantu orang melihat hubungan antara KM dengan pekerjaan mereka sendiri.

Cerita menjadi salah satu cara paling efektif untuk membangun hubungan tersebut. Alasannya sederhana. Karena cerita memberi konteks.

Ketika seseorang memahami konteksnya, konsep KM tidak lagi terasa seperti sesuatu yang abstrak, tetapi sebagai solusi yang masuk akal untuk masalah yang sedang mereka hadapi.

Itulah sebabnya, ketika seorang peserta berkata,

“Situasi itu persis seperti yang terjadi di organisasi kami.”

sering kali setengah pekerjaan kita sebenarnya sudah selesai.

Pada titik itu, mereka tidak hanya memahami cerita yang baru saja didengar. Mereka mulai melihat pekerjaannya sendiri dari sudut pandang yang berbeda.

Dan perubahan hampir selalu dimulai dari sana.

Penghargaan dan Pengakuan dalam KM: Mana yang Lebih Efektif?

Prev

7 “Penyakit Kantor” yang Menghambat Knowledge Sharing

Next
Comments
Add a comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *