Apa yang kita tahu tentang pengetahuan? Terkadang banyak dari kita salah mempersepsikan pengetahuan sebagai sebuah informasi atau malah data.
Banyak yang menganggap bahwa ketika kita sudah banyak membaca atau lulus dari pasca sarjana maka kita sudah memiliki pengetahuan.
Anggapan itu tidak sebenarnya salah tapi juga tidak sepenuhnya benar.
Membaca buku, mengikuti perkuliahan, dan tahapan pendidikan lainnya adalah sebuah pembelajaran, sebuah proses untuk mendapatkan informasi. Tetapi apakah informasi tersebut dapat diubah menjadi pengetahuan, adalah hal yang sangat berbeda.
Antara Informasi menjadi Pengetahuan
Proses pengubahan informasi menjadi pengetahuan itulah yang sesungguhnya disebut dengan belajar. Yang kita lakukan tanpa disadari seringkali ialah hanya mengetahui informasi.
Membaca buku, menghapalkan teori, mengerjakan soal ujian atau proses di dunia pendidikan lainnya banyak yang difokuskan untuk menumpuk informasi setinggi tingginya. Yang terjadi ialah kita kelebihan informasi dan tidak tahu mana prioritas informasi yang penting bagi diri sendiri. Pada akhirnya kita tenggelam dalam lautan informasi (information over flow)
Kenapa proses pendidikan yang selama ini kita lalui hanyalah menumpuk informasi? Kenapa kita bisa kelebihan informasi?
Untuk menjawab itu, ada baiknya kita melihat definisi dari data, informasi dan pengetahuan.
Menurut APQC, penjelasan data, informasi dan pengetahuan ialah data adalah gambaran apa yang terjadi bisa berupa deretan angka, gambar, grafik, atau foto. Informasi adalah data yang memiliki makna dan arti. Sedangkan pengetahuan ialah informasi yang dilakukan dan dipraktekkan sehingga memberikan nilai tambah pada pelakunya.
Kata kunci yang membedakan antara informasi dan pengetahuan adalah action (tindakan).
Analogi mudah untuk menggambarkan hal tersebut ialah memasak pasta. Bayangkan kita adalah seorang siswa di sekolah masak terkenal. Sebagai siswa sekolah masak, kita dibekali dengan buku pintar memasak pasta setebal 5000 halaman.
Dengan buku setebal itu, kita akan mendapatkan semua informasi yang dibutuhkan untuk memasak pasta. Empat tahun kita habiskan hanya membaca buku tersebut. Hingga tiap bagian dihapal dan buku pintar itu hampir rusak karena seringnya kita bolak balik. Pada saat kelulusan dan bekerja di restoran Italia, sous chef (asisten chef kepala) menugaskan kita membuat pasta untuk pertama kalinya.
Di lain pihak, seorang tukang cuci di restoran yang sama, dengan pendidikan seadanya juga diperintahkan membuat pasta. Tukang cuci itu hanya punya satu buku masak kecil dari perpustakaan daerah tetapi dengan bantuan chef lainnya, dia belajar membuat pasta ketika dapur restoran sudah kosong.
Manakah pasta yang paling enak? Mahasiswa dengan pengalaman 4 tahun yang hanya membaca buku pintar 5000 halaman tentang pasta atau tukang cuci dengan background seadanya yang membaca buku resep sederhana dan mencobanya setiap malam?
Banyak dari kita yang akan dengan cepat berkata bahwa tukang cuci yang mempraktekkan resep pasta sederhana yang akan membuat masakan lebih enak. Itulah esensi utama dari pengetahuan.
Intinya adalah bagaimana kita bisa memanfaatkan informasi dan data yang tersedia menjadi suatu nilai tambah dengan menerapkannya dalam bentuk tindakan (action). Bukan menumpuk atau menghapalkan informasi.
Fokus pada Pengetahuan, bukan hanya Informasi
Kalau begitu buat apa kita sekolah dan membaca buku? Pertanyaan klasik yang sering muncul ketika kita bertemu kasus seperti ini.
Jawabannya ada pada definisi informasi dan pengetahuan itu sendiri.
Pengetahuan adalah informasi yang dipraktekkan dan dilakukan sehingga memiliki nilai tambah. Apakah kita bisa menambah pengetahuan jika kita tidak memiliki informasi?
Tentu saja tidak bisa.
Karena informasi adalah syarat dasar mendapatkan pengetahuan. Bahkan tukang cuci yang pandai masak itupun butuh buku resep untuk memulai memasak pasta. Bahkan tukang cuci yang pandai masak itupun butuh latihan dan mencoba sebelum dia dapat membuat pasta yang enak.
Jadi, proses kuliah dan membaca yang kita lakukan bukan lah sia-sia.
Kesalahan sebenarnya bukan pada informasi yang menumpuk di otak tetapi pada kelalaian mengubahnya menjadi pengetahuan dengan mempraktekkan dan mengembangkannya menjadi nilai tambah.
Melakukan tindakan ialah kata kunci utama dari mendapatkan pengetahuan. Tanpa tindakan untuk mendalami informasi dari buku, sekolah, kuliah dan tahapan pendidikan lainnya, kita hanya akan bergerak di lautan informasi tanpa bisa mendapatkan apa-apa kecuali mengetahui dan bukan memahami pengetahuan.
Tanpa pengetahuan, bisnis tidak akan berkembang dan hanya dengan pengetahuan pula bisnis dapat berkembang.
Informasi bisa didapatkan oleh semua orang, tetapi mengolah dan mensintesisnya menjadi suatu pengetahuan adalah aset sesungguhnya dari sebuah organisasi dan pribadi.
Jadi, apa yang kita inginkan, data, informasi atau pengetahuan?
Jika ingin data dan informasi silahkan menginap di perpustakan terbaik dunia atau ikut dalam kelas kuliah membahas teori di universitas terkemuka.
Tetapi jika menginginkan pengetahuan maka mulailah melakukan dan menerapkan informasi yang kita miliki. Karena sesungguhnya, pengetahuan adalah tindakan, dan itulah satu-satunya yang membedakan antara informasi dan pengetahuan.
